Wednesday, March 19, 2008

KALAU OMA PULANG KE JAKARTA NANTI...




Beberapa hari ini mama dapat bantuan tangan-tangan mungil dalam menjemur pakaian yang habis dicuci dan nyetrika. Nyetrika? Iya,..nyetrika baju beneran, tapi setrikaannya bohongan hehehe..

Yang mengharukan adalah celoteh para bidadari ketika mengerjakannya, dan hal ini udah diulangi beberapa kali kemarin-kemarin,

"Ziya-Kira lagi ngapain ?"
"Ziya lagi nyetrika baju."
"Ooo... pake apa tuh ?"
"Pake henpon mama."
"Kok pakai handphone? Kalau setrika kan biasanya mama pakai setrikaan?"
"Iya, mama kan setlika olang besal, kalau Ziya setlika buat anak-anak pake henpon.."
"Biar apa disetrika, 'Nak?"
"Bial kalau Oma nanti ke Jakalta, Ziya yang bantuin mama nyetlika..."
"Owwww..makasih sayang, I love you.."

Hehehe, nggak nyambung dot com pertanyaan dan jawabannya, tapi nggak masalah buat mama..Mama surprise juga melihat hasil lipatan baju Ziya (beberapa baju dan celana sengaja diruntuhkan para bidadari ke lantai--dengan manjat lemari --demi untuk dibuka, disetrika dan dilipat kembali ceritanya), meskipun mengikuti lipatan yang sudah ada, modifikasinya cukup rapi dan bisa langsung mama simpan di lemari tanpa harus banyak diperbaiki lho (disamping karena mama memang ingin menghargai hasil lipatannya, jadi nggak mama buka dan lipat ulang lagi melainkan langsung dari tangan Ziya mama masukkan lemari, dan memang layak demikian karena udah cukup ok).

Sorenya, ketika mama membawa sebagian terakhir baju dari mesin cuci untuk dijemur,
"Kira-Ziya lagi ngapain?"
"Lagi jemul-jemul..."
"Wah,..bantu mama ya?
"Iya!"
"Aduh,..mama seneng banget dibantuin anak-anak mama... kerjaan mama jadi ringan deh rasanya...makasih sayang....!"
"Kalau yang dibawah Kila bisa jemul, tapi kalau yang diatas Kila nggak sampai ..."
"Iya sini mama bantu ya,."
"Nanti.. kalau Oma ke Jakalta, Kila-Ziya yang bantu mama jemul-jemul kayak gini..."
"Owww... so sweet,...makasih sayang,.. mama-papa bangga punya Kira-Ziya yang selalu siap menolong... We love you so much!"

Hmmm.. speechless.
..mama jadi nggak sanggup bicara apa-apa selain mengamati dan menikmati momen, meskipun baju dan celana bertumpuk-tumpuk di satu bagian jemuran (di bagian kira bertumpuk celana-celana dan dibagian Ziya bertumpuk lemek, kain lap dan sebagainya), mama memilih untuk merenggangkannya sedikit saja, sekedar agar kebagian angin hingga bisa cukup kering..

sungguh, mama jadi kehilangan suara, 'Nak,.. tapi sebutir embun di sudut mata mama nggak bisa diajak kompromi untuk nggak bersuara euy..


No comments: