Wednesday, January 18, 2012

HARTA KARUN MASA KECIL MAMA


Sebelum masa liburan habis, Mama menyempatkan diri untuk membereskan kamar masa kecil Mama di rumah Oma dan Opa. Sebab Oma berencana menjadikan kamar itu sebagai perpustakaan keluarga sekaligus mushola.

Selalu excited membongkar kembali rak buku kayu yang bilah-bilahnya sudah melengkung saking penuh isinya. Sebagian lapisannya bahkan sudah mengelupas karena lapuk.

Kira, Ziya dan Papa membiarkan mama menghabiskan waktu seharian di kamar itu sambil mengenang banyak hal. Bukan apa-apa, debunya tebaaaalll sekali,..mama khawatir mereka bakal bersin-bersin tiap sebentar! Hehehe...

Mama siapkan perlengkapan tempurnya: serbet basah, serbet kering, kantung plastik sampah raksasa, 20 kardus bekas kemasan air mineral-minyak-gula dkk, koran bekas sebagai alasnya dan....tentu saja kamera dan hp untuk mengabadikan momen mengasyikkan itu!

Tahukah apa yang mama temukan?
HARTA KARUN! Yeaaahh!


Mama harap kelak bisa dinikmati juga oleh Kira dan Ziya!

Di bawah ini adalah sebagian kecil koleksi perangko Mama! Ketika SD dulu, di Ujung Pandang (sekarang namanya Makassar), Mama sangat suka mengoleksi perangko luar negeri, sementara Mimi Nila mengoleksi perangko dalam negeri.

Kalau bertemu dengan siapa saja yang punya amplop atau kartu pos luar negeri, Mama tidak akan ragu memohon agar dibolehkan menyobek sebagian amplop itu, lalu mama rendam dalam air hingga lepas lem antara amplop dan perangkonya, kemudian perangko yang sudah lepas itu mama tempel di pintu kamar. Ketika kering, tinggal ditarik saja dan masukkan ke album! Dari mana mama dapat trik itu? Tentu saja dari Opa! :-)



Harta karun berikutnya adalah novel-novel anak kesukaan Mama.

Mama membelinya dengan uang saku sendiri lho.

Jadi, ceritanya, untuk menyemangati Mama dan Mimi berpuasa Ramadhan, Oma dan Opa menjanjikan hadiah Rp. 100,- jika kami berpuasa sehari penuh. Uang itu  boleh ditabung untuk dibelikan apa saja yang kami inginkan ketika naik kelas nanti. Lumayan kan? Karena Mama dan Mimi selalu berpuasa penuh, kami selalu mendapatkan Rp. 3000,- setiap habis Ramadhan. Dan itu berlanjut terus sampai kami lulus SD rasanya...

Selain tabungan Ramadhan, Mama dan Mimi Nila juga tidak ragu-ragu menyisihkan ongkos pulang-pergi ke sekolah. Tidak setiap hari kami naik becak langganan, sesekali kami naik angkot yang ongkosnya cuma Rp. 50,- buat pelajar, atau jalan kaki! Nah, lebih hemat lagi kan. Badan jadi sehat pula!

Uang jajan? Gak punya! Hehehe...
Sebab Oma selalu mengajarkan kami untuk tidak jajan sembarangan. Kalau ada yang Mama atau Mimi inginkan, Oma akan meluangkan waktu ke sekolah, ngintip si abang penjual batagor, comro dan sebagainya, lantas berusaha membuatnya sendiri di rumah. Rasanya mungkin tidak persis sama, tapi lumayan memuaskan buat kami, apalagi Oma sengaja tuh beli plastik yang ukurannya mirip si abang itu, jadi itu batagor Oma masukkan ke plastik, dikasih kuah kacang+kecap, terus kami makan deh tuh langsung dari plastiknya seperti teman-teman yang jajan di sekolah. Kreatif ya Oma?

Anyway, setiap libur Mama dan Mimi akan jalan kaki ke Pasar Palasari di Bandung(Lho, tadi Makassar, sekarang Bandung? Iya, mama masih SD juga tuh,... kami selalu ikut pindah ke mana pun Opa pindah tugas). Di lantai atasnya ada toko buku loak, tapi kondisinya masih bagus-bagus (mama dengar beberapa kali pasar itu kebakaran ya beberapa waktu lalu...sedih juga...). Percayakah kalau harga novel-novel anak masih antara Rp. 250,- sampai Rp.1.700,- ? Gimana mama nggak kalap tuh memborong semuanya?

Hobi membaca ini berlanjut sampai sekarang.
Ke mana pun kami pindah(mulai dari Jayapura, Ujung Pandang, Bandung sampai Jakarta), Opa selalu menyiapkan satu buah peti kayu besaaaarrr sekali berwarna hijau hanya untuk mengamankan koleksi buku Opa+Oma dan buku-buku Mama+Mimi.

Lihat deh koleksi Mama, mulai dari Enyd Blyton, Roald Dahl, Alfred Hitckock, Agatha Christie, sampai Shidney Sheldon (yang ini koleksi mama ketika Kuliah nih).




Dan, psssssttttt.....
Itu baru sebagian saja....masih sebagian  lagi yang gak sempat Mama foto...semua sudah rapi dalam kardus di gudang Oma. Tinggal disusun ketika rak bukunya jadi nanti :-)


Wednesday, January 04, 2012

PAJANGAN MONSTER KARYA PAPA



Kadang Mama senyum sendiri kalau ingat bagaimana kreatifnya Papa kita.

Tidak jarang lho Papa tahu-tahu membuat sesuatu secara spontan, dari kardus bekas, bungkus makanan, dan sebagainya.

Kemarin siang setelah selesai membantu Oma di dapur, Mama menemukan Kira dan Ziya asyik main berdua saja di kamar.

Nah lho, ke mana Papa?

Rupanya di kamar sebelah! 

Ngapain sih, sampai bungkuk-bungkuk begitu?

Pas Mama tanya, Papa nyengir aja!

Uh, pakai rahasia-rahasiaan segala deh...

Ya sudah, Mama perhatikan saja sambil motret sana-sini.

Papa sibuk melakukan sesuatu dengan gunting, selotip, spidol dan gambar monster yang Papa buat di iPad beberapa hari yang lalu.


Ooo,...setelah jadi, baru Mama sadar kalau Papa sedang membuat pajangan! 

Bisaaaa aja Papa terpikir untuk memanfaatkan  potongan kardus yang ketinggalan di ruang tengah setelah Kira, Ziya dan Oma berkarya pagi harinya.



Hihihi....Karya Papa langsung bertengger di atas Rak TV!


CREATIVE FOAM


Oma selalu menyimpan sisa-sisa prakarya yang sering kita mainkan bersama. Termasuk juga potongan-potongan creative foam, kertas lipat, lembar kardus bekas dan sebagainya.




Kemarin Oma, Kira dan Ziya membuat prakarya dengan memanfaatkan sisa-sisa tersebut. Alasnya dibuat dari potongan kardus yang dilapisi kertas HVS.



Lantai rumah Oma langsung penuh dengan warna!


Ini hasilnya!


Kira punya ide untuk membuat dua buah karya.

Ziya bikin lapisan pelangi berbentuk hati.

Kata Ziya dan Kira, karya-karya itu adalah hadiah buat Mama, makanya bentuknya hati...Owww..mama senang sekali! Terima kasih sayang...

Sementara itu, Oma tidak membuat bentuk baru, melainkan memanfaatkan potongan-potongan prakarya Kira dan Ziya dan sisa-sisa yang tidak jadi dipakai. Jadilah sebuah taman hati!