Monday, July 14, 2008

CROCCODILE KOTAK TISU PAPA


Ketika papa libur (Sabtu/Minggu), selain ngajak papanya jalan-jalan ke toko buku, Kira-Ziya sangat senang ngajak papanya bikin prakarya.

Kali itu papa berencana membuatkan kepala buaya dari kotak tisu. Ketemu ide ini ya sepulang dari toko buku. Kebetulan sempat bolak-balik buku tentang art & craft, di dalamnya ada prakarya kepala buaya dari kotak kardus besar yang dicat warna-warni. Nah, berhubung kita nggak punya kardus, cuma punya kotak tisu kosong (yang ini mah mama punya buanyak deh sampai menuh-menuhin lemari dapur), ya itulah yang diberdayakan.

Mula-mula papa menggambar bentuk gigi dengan spidol dan mengguntingnya. Kemudian menempelkan kertasa hvs putih di beberapa sisinya, memberi mata dan menggambar kumisnya (memang buaya punya kumis ya, 'Pa? hehehe).

Selagi papa mengutak-atik sang buaya, Kira-Ziya memperhatikan. Tapi kemudian mulai nggak sabar menunggu papa membentuk gigi sang buaya dan mulai tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya.

Nggak tau gimana prosesnya(mama lagi masak soale), tau-tau ketika sang buaya selesai giginya, selembar koran juga selesai ditempel Ziya di pintu kamar dengan lem. Koran itu lantas digambari dengan spidol.

Bosan main koran, Ziya beralih ke sang buaya kotak tisu. Ziya nggak setuju mata buaya ada di samping kepalanya, maka Ziya mengoreksinya dengan menggambar dua buah mata di bagian atas kepala sang buaya ;-).

Sedangkan Kira, setelah mengetes ketajaman gigi sang buaya dan berkomentar, "gigi croccodilenya tajam sekali ya?Hiiyyyy...", lantas asik dengan spidolnya, menggambar di kertas.

Maklum, itu kali pertama para bidadari pakai spidol. Oleh-oleh dari papa ketika dinas ke luar kota. Bukan spidol biasa, spidol istimewa yang bisa dihapus dari cryola. Ini sebetulnya sebuah rahasia yang niatnya hanya untuk diketahui mama-papa berdua saja. Tapi eh, delalahnya, suatu siang beberapa hari kemudian Kira menguaknya sendiri,
"Ma! Kila balu tau! Lupanya spidol ini bisa dihapuuuuussss!!!",
Oh no! Dan mama terlambat menghalangi si spidol itu mewarnai dinding, bangku, lemari pun lantai seketika itu juga.

No comments: