Wednesday, April 02, 2008

MENYAPIH PARA BIDADARI TERCINTA


(Sebetulnya cerita ini mulai mama tulis sejak akhir tahun lalu, tapi entah kenapa baru selesai kemarin ini, setelah sekian bulan. Mama bersyukur bisa menyusui para bidadari hingga saatnya menyapih. Mama selalu menikmati setiap detiknya. I love you, Kira-Ziya!)

INTERMEZZO

"Kalau udah setahun kata dokter anakku kandungan ASI-nya udah nggak bagus lho, Ndah!"

"Setahun aja cukup kok ngasih ASI, kalau lebih ntar jadi susah ngelepasnya, jadi manja dan lengket sama mamanya terus.

"Anak yang minum ASI biasanya malah susah makan, susah minum susu formula, ntar kamu susah sendiri lho, Ndah, kalau nggak disapih dari sekarang!"

"Kalau mau gampang nyapihnya pakai kina itu lho, yang obat pahit untuk malaria, biar jadi nggak pingin nyusu lagi..."

"Anak gue yang belum setahun udah disapih nih, isteri gue udah netapin peraturan nyusunya mulai sekarang malem aja. Siang jatahnya susu formula. Kasihan juga sih kadang anak gue nangis-nangis gitu minta ASI tapi ya gimana..."

"Kandungan ASI kalau udah kelamaan nggak sebagus pas baru lahir katanya, udah nggak pekat dan nggak banyak gizinya, katanya seeehhh gitu... jadi mending ditambah susu formula aja, Ndah!"

" Wah, lu masih nyusuin Kira-Ziya? Bukannya udah hampir 2 tahun tuh mereka? Lu jadi masih pake bra menyusui dong ya,.. masih pake baju berkancing depan terus dan ribet ke mana-mana kalau nggak sama anak-anak dong?"

"Apaaa...? Lu masih sempat nyusuin anak-anak di taksi? Tandem nyusu kiri kanan berdua gitu? Kan repot Ndah,..kenapa nggak disapih aja sih biar mereka disiplin gitu,..."

"Ribet gak sih, kemana-mana kudu nyari mall yang punya nursery room, mana di Jakarta nggak semua mall peduli dan punya ruang khusus untuk itu..."

"Ntar kalau udah jadi kebiasaan lu yang repot sendiri deh,... mending dari sekarang aja dibatasin nyusunya siang sekali, malem sekali,...awalnya ya pasti nangis-nangis, tapi nggak apa buat kebaikan mereka juga dan elu jadi nggak repot nanti kan,..."

Dan banyak lagi deh..

Mama udah familiar banget denger komentar beragam soal menyapih atau menghentikan kebiasaan nyusu ASI anak-anak. Ada yang bikin deg-degan, bikin cemas, bikin bergidik dan bikin sedih hanya ngebayangin gimana wajah Kira-Ziya kalau tiba waktunya dan kalau ternyata momen itu bukannya indah untuk dikenang malah membuat Kira-Ziya dan mama jadi tertekan dan nggak hepi. Belum lagi membayangkan efeknya, bagaimana hal itu akan berpengaruh bagi jiwa para bidadari mama-papa, perasaan diabaikan, nggak disayang, dibenci atau selalu bertanya-tanya kenapa mamanya nggak mau lagi memberikan ASI. Mama juga sedikit takut kalau sampai mengalami perasaan underpressure karena nggak bisa memberi penjelasan yang mengena dan dipahami Kira-Ziya nanti. Di satu sisi mama ingin tetap menyusui dan mencurahkan kasih sayang lewat sentuhan dan pelukan sampai tiba waktunya menyapih, dan disisi lain mama juga khawatir merasa ditinggalkan, nggak dibutuhkan dan kehilangan momen indah selama menyusui kalau udah tiba waktunya menyapih.

Tapi, mama jadi bertanya-tanya juga,...memangnya ada ya batasan atau ketentuan kapan anak kudu disapih? Kayaknya enggak ya..Satu-satunya yang mama tahu hanya ada ayat ini di Al-Qur'an, "Dan ibu-ibu (sebaiknya) menyusui bayinya selama dua tahun penuh, bagi siapa yang ingin menyempurnakan susuan."(Qs. Al-Baqarah:233). Jadi mama berpegang pada hal ini aja sejak awal. Mama berniat, berusaha dan berharap bisa menyusui para bidadari minimal hingga usia 2 tahun untuk menyempurnakannya (meskipun di tahap awal nggak selancar yang dicita-citakan, tapi mama tetap yakin dan ingin terus mengupayakannya). Mama yakin ASI adalah cairan hidup yang tidak ada tandingannya dan inysaallah bermanfaat besar bagi daya tahan tubuh Kira-Ziya.

Jadi, begitulah, bisa dibayangkan nggak sih, selama 2 tahun, Kira dan Ziya menyusu setiap hari siang dan malam. Semua dilalui dengan berbagai suka-duka yang seru, terutama di saat belajar menyusui pertamakali, saat belum menemukan posisi yang nyaman buat tandem bertiga. Masa menyusi adalah masa dimana mama jadi lebih rajin membaca buku, tanya sana sini, gabung berbagai mailing list kesehatan, mencari info dan gambar yang bisa dipraktekkan untuk menyusui anak kembar di internet, coba eksperimen dengan ganjel bantal sana sini, coba dengan kaki yang dilipat begini dan begitu, dibaringkan di depan dan kiri-kanan, nyandar ke dinding, nyandar ke tempat tidur, dan kemana aja. Serunya, nggak jarang salah posisi sehingga pinggang, punggung, kaki, semua kesemutan, sakit dan seharian nyeri tiap kali digerakkan.


Setelah berhasil menemukan posisi yang enak dan nyaman, tiba saatnya Kira-Ziya punya gigi. Ceritanya jadi berkembang lagi hehehe. Mulai dari kulit yang terkelupas, berdarah dan nggak bisa disusui karena disentuh aja sakit luar biasa, nggak berani ngasih obat apa-apa karena khawatir bahaya kalau termakan Kira-Ziya pas nyusu. Jadi ditahan aja, lukanya diolesi ASI aja siang-malam, sambil berdoa menghilangkan rasa sakit, tetap menyusui Kira-Ziya sampai lukanya mengeras, kering, terkelupas lagi dan sembuh sendiri. Mama tahu kadang gigitnya bukan karena sengaja, tapi karena mungkin Kira-Ziya sedang gemas aja, sedang gatel tumbuh gigi, dan sebagainya. Pernah juga kayaknya sedang marah, jadi nyusunya sambil nangis dan ngoceh-ngoceh terus gigit, terus nangis lagi begitu mama refleks teriak kesakitan, terus gigit lagi makin kuat dan mama mengaduh makin kuat juga.

Kemudian ada masanya sering kena gores dan cakar kuku-kuku panjang Kira-Ziya karena berantem satu sama lain sambil nyusu. Kebayang? Nyusu kiri-kanan sambil tangannya melayang-layang berusaha menjangkau, mendorong, menarik satu sama lain.


Setelah lebih besar, gaya nyusu Kira-Ziya berbeda lagi. Sambil bercanda, cekikikan ketawa, kadang sambil lari-lari! Percaya? Jadi, nyusu terus tahu-tahu mereka bercanda berdua, lari kejar-kejaran meninggalkan mama, eh, datang lagi nubruk mama yang masih duduk dan minta nyusu kembali sambil cekikikan!

Ada pula masanya Kira-Ziya suka menyusu sambil dengar mama atau papa nyanyi. ck ck ck ... mama pikir mungkin momen inilah yang paling lekat di ingatan para bidadari, soalnya sejak itu jadi hafal semua lagu anak-anak(dan mama-papa jadi merewind lagi lagu-lagu masa kecil yang penuh kenangan di hati dan kepala). Dan tibalah masanya nyusu sambil request lagu tertentu! Udah kayak di radio aja, tapi rebutan gitu deh. Kira minta mama nyanyi lagi Cicak-Cicak di Dinding. Baru satu bait, Ziya minta lagu Sayonara. Baru satu bait, Kira udah minta lagu Cicak-Cicak di Dinding lagi, begitu seterusnya. Kadang semua request terjadi bersamaan, berakhir dengan berantem dan mogok nyusu. Jadi solusinya kalau udah begitu, daripada bingung, mama akhirnya menetapkan sendiri pilihan mama. Kira-Ziya jadi diem. Lalu nyusu sampai tertidur. Adil kan? Hehehehe.

Banyak juga momen sulit yang kita lewati bersama. Ketika rumah kita penuh air hujan akibat angin kencang dan Kira-Ziya harus menyusu di lantai ruang tengah karena itu satu-satunya tempat bebas bocor dan kering. Lalu ketika mama sakit dan pernah dirawat di rumah sakit karena kena demam berdarah dengue dan setiap siang hari Opa mengantar Kira-Ziya untuk menyusu sampai puas, tertidur, baru kemudian pulang.Atau ketika Kira-Ziya harus masuk rumah sakit karena flu berat batuk-pilek di minggu pertama kepindahan kita ke sini (mungkin akibat perubahan cuaca dari Jakarta ke Kuala Lumpur) sampai lemes, harus diinfus karena nggak mau makan hanya mau nyusu (padahal usianya udah 1.5 th dan ASI bukan lagi makanan utama) dan harus diterapi untuk mengeluarkan lendir yang belum bisa dikeluarkan sendiri. Kira-Ziya menyusu dengan selang infus terpasang, lebar tempat tidur yang sempit buat posisi nyusu bertiga (kaki kira-ziya harus sedikit terlipat dan keluar dari kepala tempat tidur).Dalam kondisi-kondisi sulit seperti itu, Alhamdulillah ASI bisa jalan terus meski bukan lagi sebagai makanan utama di usia segitu (tapi sebagai satu-satunya cairan yang bisa masuk dan diinginkan Kira-Ziya setiap kali sakit).

Sambil menyusui, ikatan antara mama-Kira-Ziya selalu terasa dekat. Kalau malam hari, nggak jarang papa ikut menemani, sambil mijet bahu mama, sambil ngipas-ngipas atau niup-niup kelopak mata dan wajah Kira-Ziya dengan lembut, sambil gantian nyanyi sama mama, sambil ngobrol ngalor-ngidul, sambil nonton TV, sambil menyeruput teh hangat dan ngemil, sambil nyuapin mama sarapan, sambil mencium atau menggelitik pipi Kira-Ziya dan bahkan nggak jarang akhirnya membuyarkan acara nyusu itu karena para bidadari jadi cekikikan bertiga sama papa dan memilih main gelitik-gelitik aja daripada nyusu.

Sambil menyusu pula kadang mama merasa hati Kira-Ziya nyambung dengan hati mama. Pernah di Cirendeu dulu papa sedang di Badak, Kalimantan, dan mama lagi kangen berat, Kira dan Ziya gantian mengusap lembut pipi dan punggung mama. Nggak berkata-kata, hanya memandang mama sambil nyusu, kadang melepaskan susu untuk sekedar tersenyum lembut ke arah mama atau berbisik, " mama...", menatap lekat mata mama beberapa detik, lalu nyusu lagi. Duhai, mendengar dan menikmati momen itu rasanya bikin dunia seperti penuh pelangi. Warna-warni. Membuat mama merasa sangat dicintai dan mencintai. Membuat mama ingin selalu bersyukur dan melihat betapa dunia demikian indah. Bikin mama jadi melankolis deh, kadang jadi pingin nangis.


CACAR AIR DAN BERHENTI MENYUSU

Ketika pulang ke Indonesia pertengahan Oktober lalu, terpaksa hanya papa yang pulang sesuai jadwal 4 hari kemudian. Hari Sabtu, di pesawat menuju Jakarta, badan Ziya sudah mulai panas. Hari Senin muncul beberapa bintik berisi cairan dan hari Selasa dipastikan itu cacar air. Ketika ke dokter yang berbeda beberapa hari kemudian, didiagnosa bukan cacar air tapi sekedar kuman biasa, karena penyebarannya nggak banyak dan nggak seperti cacar air. Sedikit lega. Saat itu Kira-Ziya masih menyusu seperti biasa.

Ketika beberapa hari kemudian Kira punya gejala sama dan di bawa ke dokter lagi, ternyata memang cacar air. Mama pernah baca cacar air yang dialami anak-anak memang lebih ringan dibandingkan jika dialami orang dewasa. Sehari sebelum ulangtahun Kira-Ziya yang ke-2, sambil menyusui mama baru sadar ada sesuatu yang disentuh Ziya seperti bintik cacar air di dada mama. Wah, gejalanya kok sama seperti para bidadari ya. Besoknya nambah lagi, lagi, lagi.

Mama lantas ke dokter dan dinyatakan positif kena cacar air! Waduh, gimana nih.. jadwal balik ke Kuala Lumpur udah direncanakan besoknya dan seluruh tiket udah ok. Apa perlu hangus lagi? Papa udah secara khusus pula menjemput kita. Tapi dokter yang mama kunjungi bilang kalau semua udah terencana dan nggak bisa berubah, ya baca Bismillah aja, semoga nggak ada halangan di perjalanan nanti terutama di imigrasinya. So..kita putuskan berangkat ke Kuala Lumpur. Dan terkarantina di rumah sampai semuanya pulih total sekitar satu bulanan kemudian.

Begitulah. Tanggal 2 November 2007, tepat di hari ulang tahun yang ke-2, Kira-Ziya nggak menyusu lagi. Awalnya mama nggak berpikir menyapih secara langsung begitu saja, mama tahu pasti akan ada efeknya jika demikian. Lagipula, bukankah kita bertiga perlu waktu secara bertahap menghadapi proses itu? Ya para bidadari, ya mama. Tapi itulah yang terjadi. Begitu tahu cacar air dan seluruh badan mama terasa panas dan setiap gelembung-gelembung berisi air itu terasa sakit, pedih sekaligus gatal bukan main, mama bilang terus terang ke Kira-Ziya bahwa mama kena cacar air. Semacam jerawat yang isinya air, gatal, seperti apa yang sedang dialami Kira saat itu dan baru saja dialami Ziya yang berangsur pulih. Jadi kondisinya hampir tanpa reaksi berlebihan dari keduabelah pihak (Kira-Ziya dan mama), tanpa kekhawatiran-kekhawatiran, ya begitu saja terjadi, sim-sala-bim!abrakadabra! dan sepertinya semua otomatis maklum karena fokus dan konsentrasi kita semua saat itu adalah pengobatan dan penyembuhannya..

Sejak hari itu setiap kali ingin menyusu, Kira-Ziya refleks berbarengan bilang,

"Mama,..mama lagi jelawatan ya? Kalau gitu Kila-Ziya minum susu ultla(ultra) aja ya? Kila-Ziya udah gede sekalang udah 2 tahun kan?"

"Sekalang Kila nggak nyusu mama lagi kalena nanti kena jelawatnya. Kalau mama udah sembuh balu nyusu lagi nanti ya 'ma ya?..."

"Ziya, kita jangan susu mama, kasian mama sakit nanti jelawatnya..", sungguh mengharukan melihat para bidadari sudah pandai saling mengingatkan dan memaklumi keadaan. Mau nggak mau mama terharu juga...

Anyway, Ketika tiba di KL, hal itu terus berlangsung. Sehari, dua hari, tiga hari, entah kenapa mama mulai merasa bersalah karena terkondisi membuat Kira-Ziya tersapih dengan sendirinya sedemikian. Mama sebetulnya udah berkali-kali ngobrol dan sepakat dengan papa untuk santai aja, karena toh kami bertiga akhirnya kena cacar air alias saling tular-menulari, jadi nyusu nggak nyusu bukankah sama aja. Tapi Kira-Ziya seolah memang mengerti. Sama sekali nggak merengek-rengek minta nyusu, yang tadinya nggak suka susu selain ASI sejak saat itu jadi rajin bilang "pingin susu milo (di sini nggak ada susu ultra uht soalnya) aja" tiap kali ingin nyusu. Sampai suatu siang di hari ke-5...saat lagi nonton TV di kiri-kanan mama dan mulai ngantuk, Kira-Ziya sambil tiba-tiba bilang,

"Kila mau susu mama..."

"Ziya juga mau susu mama..."

"Susu milo aja gimana?", mama coba menawarkan sambil memeluk para bidadari.

"Nggak mauuuuuuuu! Susu mama aja,..nggak apa jelawatnya,..maunya susu mama ajaaa..." hampir kompak keduanya menjawab demikian.

Sore itu untuk pertama kalinya Kira-Ziya merengek lagi kangen nyusu. Pertahanan mama juga runtuh karena ternyata merasa kangen juga menyusui selain rasanya persediaan ASI-nya memang udah penuh banget (pastilah demikian karena tiba-tiba berhenti).

Tau nggak apa yang terjadi ketika akhirnya mama menyiapkan bantal untuk bersandar dan posisi menyusui? Kira-Ziya langsung cerah, lari menyerbu kasur, lojak-lonjak kegirangan sambil menepuk-nepuk pipi dan cekikikan seperti mau dapat coklat atau es krim gitu loh! Hehehe sore itu akhirnya kita bertiga menemukan lagi momen yang ternyata selama 5 hari udah hilang. Subhanallah, rasanya nggak bisa diceritain deh. Campur aduk. Setelah puas nyusu Kira-Ziya tidur pulas cukup lama. Sejak itu, setiap 5 hari sekali Kira-Ziya merengek minta nyusu (kok bisa pas tiap 5 hari ya, mungkin kebetulan aja) dan kita bertiga menjalani dan menikmatinya dengan santai.

Sebulan kemudian barulah Kira-Ziya berhenti sama sekali menyusu ASI, sampai sekarang. Alhamdulillah, kita semua lulus menjalani seluruh proses dengan muluuuuusssss.....

Ada sedikit yang mama catat tentang masa menyapih. Entah perasaan mama saja atau memang demikian adanya, Kira-Ziya jadi sedikit lebih manja. Ke mana-mana jadi sering minta ditemenin, jadi sering minta digendong, jadi sering minta dipeluk dan memeluk, jadi sering nempel kayak perangko sama mama. Menghadapinya mama berusaha santai aja, mama anggap ini bagian dari seluruh proses, mama jadi belajar juga menghadapi diri sendiri. Mama jadi lebih sering ngobrol (meskipun belum tentu Kira-Ziya ngerti) dan menunjukkan bahwa mama nggak ke mana-mana. Mama masih ada di samping para bidadari. Nggak ada kasih sayang yang berkurang semata-mata karena nggak nyusu lagi. Kita jadi lebih sering seperti teletubies: berpelukan! Hehehehe...Dari apa yang mama lakukan dan upayakan, mama berharap Kira-Ziya paham bahwa nggak nyusu lagi is not the end of the world dan kita sama-sama tahu bahwa kita saling mencintai dan menyayangi. Mama bersyukur dan merasa sangat beruntung karena Papa punya peran yang besar dalam mengalihkan perhatian dan keinginan Kira-Ziya untuk menyusu selama proses penyapihan (ngajak main, ngajak baca buku sampai ketiduran dan lupa nyusu, ngajak minum jus apel, ngajak melakukan hal-hal seru sehingga nggak ingat nyusu, macam-macam deh). Papa selalu ada buat kita semua. Thank you, dear, I love you! We love you so much!

Sekarang kalau lihat gambar bayi sedang menyusu di majalah, Kira-Ziya masih sesekali tersipu-sipu lalu lari berhamburan memeluk sambil bergelayut di leher mama menirukan gaya menyusu. Tapi nggak lama kemudian biasanya ketawa sambil bilang,

"Hehehe...Mama udah sembuh ya? Nggak jelawatan lagi ya? Nggak sakit lagi ya? Tapi sekalang Kila-Ziya kan masih besal,..(maksudnya "sudah" besar), jadi nggak nyusu mama lagi. Kalau adik bayi kan sudah kecil (maksudnya "masih" kecil) jadi masih nyusu mamanya kan..." ..Pinteeerr...

Lalu kita bertiga guling-gulingan di lantai sampai bikin papa kalau lihat pasti ngiri pingin ikutan :-)

Ohya, pernyataan-pernyataan mencemaskan di awal cerita ini ternyata nggak terbukti, jadi seharusnya nggak perlu khawatir sampai kapan pun menyusui, sebab ASI nggak kenal kata rusak atau nggak bagus. ASI selalu bagus dan unggul. Banyak sumber data yang lengkap soal keunggulan ASI sebagai makanan terbaik bagi buah hati tercinta terutama secara eksklusif (tanpa tambahan susu formula dan makanan padat) dalam 6 bulan pertama kehidupannya. Karena kandungannya yang secara alamiah menyesuaikan dengan kebutuhan bayi saat menyusu, maka ASI memang nggak tertandingi. Bukankah ibu negara kita tercinta juga sudah mengkampanyekannya kemarin ini? Bravo! Jadi kenapa masih ragu? Jangan tunggu lagi, mulai aja dari sekarang. Berika ASI buat ananda tercinta (menyusui si kembar secara tandem? Kenapa tidak! Udah terbukti bisa kan dan banyak contohnya di masyarakat). Khawatir ASI sedikit dan nggak cukup? Niatkan dengan cinta, rileks (jangan cemas dan putus asa dulu ya), cari dan pelajari ilmunya(banyak baca sumber info, buku, majalah yang tepat), tanya pada jaringan pendukung yang udah berpengalaman atau ahli laktasi di rumah sakit-rumah sakit pendukung ASI, gabung milis pendukung ASI di internet, istirahat cukp-makan bergizi seimbang-minum cukup, ikhlas dan yakinkan diri bahwa ASI akan semakin banyak jika semakin sering disusui, jadi mantapkan mind set di kepala dan hati.

Selanjutnya, nggak perlu juga khawatir berlebihan soal kapan harus menyapih, bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau begitu. Yakinkan bahwa menyapih bukan berarti ada kasih sayang yang akan ikut hilang. Bukankah ini awal bagian dari proses tumbuh, kembang dan dewasa? Cepat atau lambat pasti akan datang waktunya. Beri pelukan lebih banyak, ciuman lebih banyak, habiskan waktu berkualitas bersama lebih banyak, intinya ikuti aja prosesnya dan jalani secara bertahap. Luruskan niat, sempurnakan ikhtiar, bicarakan dengan suami tercinta dan keluarga terdekat agar dapat dukungan (milis, teman, sahabat), jalani dengan santai dan nikmati seluruh momen ajaib-nya.. :-)


2 comments:

triwibowo said...

makasih mama sayang, sudah memberikan selalu yang terbaik buat kira ziya, sudah berjuang dengan penuh cinta kasih untuk memberikan ASI ke kira ziya selama 2 tahun. InsyaAllah semua perjuangan mama menjadi bekal kuat untuk kira ziya menjadi anak yg sehat kuat cerdas dan solehah, amiin. makasih mama sayaang, we love u! so much!

Neni said...

setelah disapih emang jadi lebih manja ya ndah.. najwa juga dulu begitu, sampe skarang deh. kalo tidur mesti dipeluk, digaruk garuk walopun gak gatal..

dulu dia bilang kalo adek udah lahir, dia mau nyusu lagi hahaha..adek dikiri dia dikanan katanya. sekarang aku kasih dia malah lari.. busuk katanya..

salut deh, bisa nyusuin 2 orang sekaligus gitu..